“WHO” Is More Important Than “HOW” :)

“To become successful, learn from those who are already successful”

Saat sekolah, ketika ada tugas matematika, dan kita tidak tahu bagaimana menyelesaikannya, kepada siapa kita bertanya? Pada teman sekelas yang pintar matematika, tentu saja! Bahkan, murid yang ‘Pandai’, akan memilih untuk duduk di sebelah murid yang ‘Jenius’ matematika selama di sekolah sehingga ia bisa ‘bertanya’ padanya untuk jawaban yang benar! Kita semua pasti akan bertanya pada orang yang tahu jawabannya!

Saya jadi teringat dengan masa-masa SMA saya dahulu ketika bersekolah di SMA 2 Surabaya. Saat awal catur wulan, Alhamdulillah saya masuk 5 besar di kelas saat itu. Namun, hati kecil saya bertanya-tanya “kok bisa ya si Aries bisa meraih peringkat satu di Kelas? Kok bisa ya si Rizal jago banget matematikanya?” Ketika itu, tiba-tiba hati saya tergerak untuk membuka diri, dan akhirnya saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada dua rekan saya di atas, sebenarnya apa rahasianya sehingga bisa menjadi sepandai itu? Mulailah saya melancarkan pertanyaan, kamu makannya apa, tidurnya bagaimana, cara belajarnya seperti apa, les dimana, dan rahasia-rahasia lainnya. Dari sana saya mulai mencoba mempraktekkan tips-tips dari rekan-rekan saya, dan Alhamdulillah ketika menginjak tahun kedua di SMA 2 Surabaya, saya berhasil meraih juara kelas🙂 Dan alhamdulillah hal itu berlanjut di tahun ketiga juga. It works!!😀

Anak-anak muda pun menggunakan cara yang sama. Ketika ia ingin membeli smartphone baru, tapi tidak tahu banyak tentang teknologi terbaru, fitur, dan manfaat. Kepada siapa ia bertanya? Teman yang selalu berubah ponselnya tiap tiga bulan tentunya karena ia benar-benar up to date tentang teknologi terbaru. Sekali lagi, ia mencari tahu kepada orang yang tahu.

“Untuk jadi sukses, belajarlah dari orang-orang yang telah sukses”. Kita menggunakan konsep ini nyaris setiap hari. Masalahnya, mengapa saat kita ingin mencari tahu hal sederhana seperti soal mengerjakan tugas, membuat kue, dan membeli ponsel, kita bertanya kepada orang yang lebih tahu, tapi mengapa saat kita berhubungan dengan hal lebih penting dan besar seperti ‘Kesuksesan’, kita justru berusaha mencarinya sendiri?

Kita tidak menyia-nyiakan Rp.100ribu untuk membeli bahan-bahan masakan setiap harinya, tapi mengapa justru mengambil resiko kehilangan Rp.100juta saat membeli beberapa saham hanya karena beberapa orang teman kita -yang bukan ahli di bidangnya- mengatakan bahwa ini adalah investasi yang baik. Dan ketika kehilangan uang, kita menyalahkan ‘nasib buruk’?

Kita tidak menyia-nyiakan Rp.3juta untuk membeli ponsel yang salah, namun kita beresiko kehilangan Rp.2M membeli properti yang salah -tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan orang yang lebih ahli- karena iklan properti sangat menarik dan too persuasive. Dan, ketika lima tahun kemudian nilai property tidak naik seperti yang diharapkan, dan kehilangan uang, lantas kita menyebutnya ‘nasib buruk’?

Kita tidak akan menyia-nyiakan 30 menit waktu untuk bertanya, mencari tahu jawaban yang  benar tentang soal matematika ataupun fisika. Namun, mengapa banyak orang justru menghabiskan SELURUH HIDUPNYA mencoba berpikir tentang bagaimana menjadi sukses tanpa bertanya kepada seseorang yang jelas-jelas sudah sangat sukses.

Inilah PERBEDAAN YANG MENDASAR! Ketika orang biasa ingin melakukan sesuatu (misalnya membeli sebidang tanah, membangun beberapa ruko, dan menjualnya saat ada untung), mereka akan berfokus pada APA yang mereka lakukan, dan BAGAIMANA melakukannya. Mereka mencoba untuk memikirkan apa yang harus dilakukan. Mereka merasa –lebih kurang- tahu bagaimana melakukannya, melakukannya dengan segenap hati, menjalaninya dalam rentang waktu yang lama, mereka khawatir jika membuat kesalahan (kesalahan yang mahal!). Namun, ternyata, mereka justru menghabiskan waktu, uang, dan usaha dengan cara yang salah, dan mereka gagal, meski telah melakukan upaya terbaik.

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” QS. An-Nahl: 43

Sedangkan orang yang sukses melakukan hal yang berbeda. Setiap kali ingin melakukan sesuatu yang masih membuat ragu-ragu, mereka bukannya menebak ‘apa’ yang harus dilakukan, atau ‘bagaimana’ untuk melakukannya? Orang-orang tersebut langsung bertanya “SIAPA yang sudah tahu bagaimana melakukannya?” Mereka mencari nama-nama dari beberapa ahli. Mereka meluangkan waktu untuk belajar dari orang yang lebih tahu dan ahli di bidangnya. Bahkan seringkali, mereka siap MEMBAYAR untuk mendapatkan nasihat dari para ahli🙂

Jadi, SIAPA yang harus Anda tanyai? Selalu tanyakan SIAPA, SIAPA, SIAPA? “Every time you see someone more successful than you, he is doing something you aren’t” –Malcom X

Written by Pinky AM inspired from James Gwee, MLB Magz

3 Responses to ““WHO” Is More Important Than “HOW” :)”

  1. jeli gamat luxor Says:

    luar biasa menarik informasinya
    terimakasih

  2. bali tour Says:

    Terima kasih banyak atas informasinya

  3. Bali Tour Says:

    Saya sependapat sekali dengan post anda
    terima kasih atas informasinya, sangat bermanfaat sekali


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: